Gunung Sumbing
Gunung Sumbing

TRADISI PENDAKIAN MALAM SELIKURAN GUNUNG SUMBING

Posted on
Di Gunung Lawu terdapat tradisi pendakian pada malam 1 Suro, sementara di Gunung Sumbing juga memiliki tradisi pendakian malam Selikuran, yang berlangsung pada malam 21 Ramadhan. Banyak warga setempat yang beramai-ramai mendaki menuju puncak kawah untuk berziarah ke makam yang diyakini sebagai makam Ki Ageng Makukuhan. Ki Ageng Makukuhan adalah seorang tokoh penyebar agama Islam yang diutus oleh gurunya, Sunan Kalijaga, untuk menyebarkan ajaran Islam di wilayah Kedu.

Tradisi pendakian malam Selikuran ini telah ada sejak lama dan terus dilestarikan oleh masyarakat di sekitar lereng Gunung Sumbing. Jalur pendakian Sumbing melalui Dukuh Seman menjadi salah satu rute yang digunakan oleh penduduk setempat untuk berziarah ke puncak atau makam.

*Malam Selikuran di Gunung Sumbing** adalah sebuah tradisi yang dijalankan oleh masyarakat di lereng Gunung Sumbing untuk memperingati Nuzulul Qur’an. Tradisi ini dilakukan dengan mendaki ke puncak Gunung Sumbing.

**Asal-usul Tradisi**
Tradisi ini telah dilaksanakan secara turun-temurun oleh penduduk di sekitar Gunung Sumbing. Masyarakat meyakini bahwa tradisi ini membawa banyak berkah.

**Kegiatan yang Dilakukan**
Selama tradisi ini, masyarakat melakukan pendakian menuju puncak Gunung Sumbing. Mereka juga mengunjungi petilasan Kyai Makukuhan. Selain itu, masyarakat berkumpul untuk mengadakan kenduri dan doa bersama.

**Lokasi**
Tradisi ini berlangsung di puncak Gunung Sumbing, yang terletak di wilayah Kabupaten Temanggung, Magelang, dan Wonosobo.

Apakah Anda penasaran dan ingin menyaksikan langsung warga yang melakukan pendakian tradisi malam Selikuran? Catat tanggalnya: 21 Ramadhan, Sumbing via Dukuh Seman.

Dikatakan bahwa jalurnya cukup mudah dan cocok untuk orang tua serta anak-anak. Silakan buktikan sendiri!

Tulisan: Basecamp Bimawari